Tampilkan postingan dengan label raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label raya. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 Desember 2013
6 Ide Kecil yang Membuat Kaya Raya di Dunia
Ide-ide kecil tak selalu menggambarkan pendapatan kecil. Ide kecil juga bisa berarti big money. Tergantung bagaimana menggarapnya. Sejumlah ide kecil bahkan menjadi penemuan besar karena produk sepele itu menjadi barang yang amat bermanfaat di masa sekarang.
Berikut ini adalah sejumlah orang yang sukses mengembangkan ide kecil menjadi sesuatu yang luar biasa. Sebagian mengantarnya menjadi pengusaha dengan penghasilan luar biasa, sebagian lain memperoleh kedudukan bergengsi dan tercantum namanya di dalam deretan penemu-penemu hebat dunia.
1.Bette Graham - Mistake Out

Idenya menutupi salah ketik dengan cairan putih yang cepat beku. Adalah Bette Graham yang punya ide itu. Sekitar tahun 1951, Ms Graham menjadi sekretaris eksekutif yang sering mengetik dokumen penting. Agar tak usah mengulang mengetik dokumen setiap kali ada salah ketik, ia menggunakan cat putih yang ia ramu sendiri. Ternyata cat putih plus kuas kecil yang dinamakannya Mistake Out itu disukai teman-temannya juga. Akhirnya ia mendirikan pabrik Mistake Out.
Pada tahun 1972, omset usahanya sudah lima juta botol Mistake Out setiap tahunnya. Ketika ia meninggal tahun 1980, kekayaannya mencapai 47,5 juta dolar AS. Siapa sangka ide kecil itu bisa membuatnya kaya.
2.Earle Dickson - Band-Aid
Capek berkali-kali menempelkan perban pada jari istrinya yang sering terluka saat mengiris makanan di dapur, Earle Dickson menemukan cara jitu. Ia menggunting kain kasa kecil lalu menempelkannya di selotip.
Dengan cara ini, kain kasa jadi mudah ditempelkan pada luka kecil. Ternyata ide yang dimunculkan pada sekitar tahun 1920-an itu cukup brilian sampai-sampai perusahaan tempatnya bekerja, Johnson & Johnson memproduksinya secara massal dan Earle Dickson sendiri diangkat menjadi wakil presiden Johnson & Johnson.
3.Albert J. Parkhouse - Gantungan Baju
Ia kehabisan cantelan jaket di dinding saat tiba di tempatnya bekerja. Albert J. Parkhouse, yang bekerja di pabrik kawat pada sekitar tahun 1903 akhirnya menemukan ide. Kawat ia bentuk oval dengan dua ujung kawat disatukan sehingga menjadi kaitan. Dengan kawat bentukan, itu ia bisa menggantungkan jaket dan mencantelkannya dengan mudah di dinding, tanpa mengganggu jaket lain yang ada di sana. Itulah awal ditemukannya gantungan baju.
Sekarang siapa yang tak membutuhkan gantungan baju? Ide kecil itu kini jadi bisnis besar. Inilah bukti bahwa masalah kecil bisa jadi ide sukses yang luar biasa.
4.Arthur Fry - Post-it
Bagaimana cara membuat catatan yang mudah ditempel, mudah dilihat, dan mudah pula dilepas? Arthur Fry punya caranya. Idenya didapat dari temannya yang memanfaatkan lem gagal (tidak lengket) sebagai bahan penempel kertas untuk menandai halaman di kitabnya. Arthur lalu mengembangkannya menjadi produk yang belakangan dikenal sebagai Post-it.
Post-it, ide kecil itu, kemudian menjadi produk andalan 3M (perusahaan yang mempekerjakan Arthur) dan menjadi bisnis besar. Kini, dunia mengenalnya sebagai "kertas catatan tempel" yang populer..
5.David Horvarth dan Sun-Min Kim - Ugly Doll
Apakah hanya boneka berwajah cantik saja yang laku? Sepasang kekasih David Horvarth dan Sun-MinKim justru memilih sebaliknya. Mereka membuat boneka buruk rupa (Ugly Doll) yang ternyata laku di pasaran. Sampai-sampai anak-anak Presiden AS, Barack Obama, juga mengoleksi boneka Ugly Doll itu.
Idenya sebenarnya sederhana. David suka membuat gambar monster di bukunya. Kekasihnya Kim memberinya kejutan saat David berulang tahun. Kim yang asal Korea membuat boneka berdasarkan gambar monster yang dibuat David. Hasilnya, ya Ugly Doll itu. Kini mereka menjadi pengusaha boneka yang terkenal di AS gara-gara ide kecil dari gambar monster karya David Horvart.
6.Toru Kumon - Kumon
Anak pertama Toru Kumon, seorang guru matematika SMA di Jepang, sulit belajar matematika. Kumon lalu membuat metode (modul) pelajaran matematika bagi anaknya agar memudahkannya memahami ilmu hitung ini pada tahun 1954. Metode itu ia namakan Metode Kumon. Ternyata dengan metode itu anaknya bisa mengikuti pelajaran matematika dengan sangat baik. Setelah itu para tetangganya ingin mencoba metode yang sama. Kumon lalumendirikan Kumon Center.
Kini sebanyak 26.000 Kumon Center berdiri di 44 negara dengan pola pengembangan jaringan franchise.
sumber
Rabu, 11 Desember 2013
Sin Po Tionghoa Berperan Penting menyebarkan Indonesia Raya
Ada kisah menarik soal lagu Indonesia Raya dan warga Tionghoa. Sin Po, publikasi di jaman pra-kemerdekaan memegang peran penting sebagai penyebar teks lagu kebangsaan ke seluruh penjuru.
Dua pekan setelah dikumandangkan pertama kali secara instrumentalia pada 28 Oktober 1928 (pada Kongres Pemuda II), surat kabar Sin Po - koran milik keturunan Tionghoa di Indonesia - memuat syair "Indonesia Raya" pada 10 November 1928. Secara nyata, koran ini yang pertama kali memublikasikan lagu kebangsaan Indonesia, lengkap dengan partiturnya.
Dua pekan setelah dikumandangkan pertama kali secara instrumentalia pada 28 Oktober 1928 (pada Kongres Pemuda II), surat kabar Sin Po - koran milik keturunan Tionghoa di Indonesia - memuat syair "Indonesia Raya" pada 10 November 1928. Secara nyata, koran ini yang pertama kali memublikasikan lagu kebangsaan Indonesia, lengkap dengan partiturnya.

antik-otara.blogspot.com
Di koran edisi bahasa Melayu itu, WR Supratman menulis dengan jelas lagu kebangsaan di bawah judul Indonesia Raya. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan tangga nada C dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat (lihat Tionghoa Dalam Pusaran Politik; Benny Setiono)
Beberapa sumber lain menyebutkan WR Supratman menulis dengan tangga nada G dan irama Marcia.
Beberapa sumber lain menyebutkan WR Supratman menulis dengan tangga nada G dan irama Marcia.
Kata "Indonesia" dan "Tionghoa"
Sin Po, yang pertama kali terbit sebagai mingguan pada 1 Oktober 1910, juga merupakan surat kabar yang mempelopori penggunaan kata Indonesia menggantikan Nederlandsch-Indie, Hindia-Nerderlandsch, atau Hindia Olanda. Harian ini juga yang menghapus penggunaan kata inlander dari semua penerbitannya karena dirasa sebagai penghinaan oleh rakyat Indonesia.
Sebagai balas budi, pers Indonesia mengganti sebutan Cina dengan Tionghoa dalam semua penerbitannya. Dalam percakapan sehari-hari, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian juga mengganti kata Cina dengan kata Tionghoa.

Contoh terbitan Sin Po / tokohitamblackchamber.blogspot.com
Koran Sin Po saat itu memang memiliki pandangan politik yang pro-nasionalis Tiongkok. Namun karena alasan itu pulalah, yakni berdasar ajaran Dr Sun Yat Sen, Sin Po mendukung perjuangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan. Dalam San Min Chu I, Sun Yat Sen menulis perkembangan kemerdekaan Tiongkok tidak akan sempurna selama bangsa-bangsa di Asia belum merdeka.
Gerakan pro-nasionalis Tiongkok yang didukung Sin Po akhirnya sirna seiring dengan kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, yang juga banyak didukung tokoh-tokoh Tionghoa. Mereka yang menyatakan Tionghoa adalah bagian dari bangsa Indonesia pernah mengorganisir dalam Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada 1932.
Mereka barangkali sepandangan dengan Dr Josef Glinka SVD, antropolog senior dari Universitas Airlangga, bahwa soal pribumi atau tidak, hanyalah persoalan perhitungan waktu, kapan leluhur mereka datang ke Indonesia.
Hal inilah yang mungkin perlu disadari oleh mereka yang menebar kebencian terhadap etnis Tionghoa belakangan ini. Seperti kata Glinka, yang lebih dulu datang, tentu tidak boleh mencap yang kemudian sebagai non-pribumi.
Terima kasih kepada Sin Po, juga pada saudara kita warga Tionghoa, yang memungkinkan alunan biola WR Supratman tak lagi menjadi nyanyian sunyi.
Gerakan pro-nasionalis Tiongkok yang didukung Sin Po akhirnya sirna seiring dengan kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, yang juga banyak didukung tokoh-tokoh Tionghoa. Mereka yang menyatakan Tionghoa adalah bagian dari bangsa Indonesia pernah mengorganisir dalam Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada 1932.
Mereka barangkali sepandangan dengan Dr Josef Glinka SVD, antropolog senior dari Universitas Airlangga, bahwa soal pribumi atau tidak, hanyalah persoalan perhitungan waktu, kapan leluhur mereka datang ke Indonesia.
Hal inilah yang mungkin perlu disadari oleh mereka yang menebar kebencian terhadap etnis Tionghoa belakangan ini. Seperti kata Glinka, yang lebih dulu datang, tentu tidak boleh mencap yang kemudian sebagai non-pribumi.
Terima kasih kepada Sin Po, juga pada saudara kita warga Tionghoa, yang memungkinkan alunan biola WR Supratman tak lagi menjadi nyanyian sunyi.
Sumber:
merdeka
merdeka
Langganan:
Postingan (Atom)