Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Desember 2013
Usaha Budidaya Jamur Konsumsi

Usaha budidaya jamur untuk konsumsi merupakan sebuah lahan bisnis bagus bagi penduduk yang tinggal di kawasan pinggiran kota. Jamur sangat laku dijual di daerah perkotaan, karena selain cita rasanya yang enak, juga merupakan jenis makanan nabati bagi para vegetarian. Ada berbagai jenis jamur yang bisa dikonsumsi masyarakat, yaitu jamur tiram, jamur kuping, dan jamur merang. Yang paling banyak dibudidayakan adalah jamur tiram. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycates dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, biochemistry, Faculty of Pharmaceutical Universitas Chulangkorn, jamur tiram mengandung protein,air, kalori, karbohidrat, dan sisanya berupa serat zat besi,kalsium, vitamin B1, B2, dan vitamin C.
Untuk memulai pembuatan usaha ini, diperlukan beberapa langkah, antara lain :
Pembuatan Bangunan/Ruangan Budidaya Jamur
Beberapa ruang yang perlu dipersiapkan terdiri dari :
- Ruang persiapan adalah Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan Sterilisasi.
- Ruang Inokulasi atau disebut juga tempat pembibitan adalah ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain).
- Ruang Inkubasi berfungsi sebagai tempat inkubasi jamur. Masa inkubasi adalah masa pertumbuhan miselium jamur di dalam media jamur. Pertumbuhan miselium ditandai dengan serat putih, yang dimulai dari tempat awal bibit ditanam dan terus berkembang. Untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning) diperlukan kondisi ruangan yang bertemperatur 22 – 28 derajat C dengan kelembaban 60% – 80%, Ruangan ini dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastic (baglog) yang sudah di inokulasi.
- Ruang Penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 – 22 derajat C dengan kelembaban 80 – 90%.
- Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur diantaranya, Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, centong.
Bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah dedak, serbuk kayu, kapur, gips, tepung jagung (biji-bijan), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik.
Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan kegiatan yang dilaksanakan antara lain:
- Persiapan Bahan, Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa.
- Pengayakan, Pengayakan serbuk kayu ini bertujuan agar media tanam ini mempunyai komposisi yang sama sehingga jamur dapat tumbuh merata.
- Pencampuran, bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 % atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup.
- Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastic.
- Pembungkusan (Pembuatan Baglog), Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan.
- Sterilisasi, dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 – 100 derajat C selama 12 jam.
- Inokulasi (Pemberian Bibit) adalah kegiatan memasukan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur Tiram yang baik yaitu: varitas unggul, umur bibit optimal 45 – 60 hari, warna bibit merata, tidak terkontaminasi
- Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram, dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 – 60 hari.
Panen Jamur Tiram, dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudah pemasaran
Produk Olahan Jamur Tiram
Selain menjual jamur tiram dalam bentuk bahan mentah, beberapa orang menjualnya dengan mengolahnya terlebih dahulu untuk menambah nilai jual atau sebagai strategi terhadap produk panen yang berlebih. Beberapa ragam olahan jamur tiram antaralain : soto jamur, pepes, jamur crispy, kripik jamur, mie jamur, sate jamur, kerupuk jamur, permen jeli jamur tiram, abon jamur, sossis jamur, dan campuran bakso jamur, serta produk kreatif lainnya.
Demikianlah langkah-langkah dalam budidaya jamur tiram, semoga bisa memberi sedikit gambaran bagi usaha anda.
Selasa, 22 Oktober 2013
Budidaya Ikan Botia

Budidaya ikan botia pada umumnya, ikan botia diperjualbelikan dalam ukuran pada 1-3 inchi atau 2, 5 —7, 5 cm. botia berukuran besar, yaitu diatas 5 inchi dilarang untuk diperjualbelikan. tujuannya membuat perlindungan botia dari kepunahan dikarenakan penangkapan ikan dengan besar-besaran.
Penentuan induk
Sampai sekarang ini, induk botia tetap didatangkan dari alam atau mesti dibeli di area penangkapan. induk lantas dipelihara dalam area pemeliharaan yang tertutup atau wadah pemeliharaan¬nya dilengkapi tutup supaya cahaya sedikit masuk. adaptasi untuk masak gonad ikan ini agak lama lebih kurang 8-10 bln.. induk yang masak gonad ditan¬dai dengan gendutnya induk betina. cara kanulasi atau kateterisasi merupakan cara yang sangat efisien untuk memastikan kematangan gonad. Jika ukuran telur telah meraih panjang 1,1 - 1,2 mm maka ikan bisa dipijahkan. untuk induk jantan bisa dilihat dengan pengurutan serta apabila telah dapatkeluar sperma yakni cairan putih susu bermakna dia masak.

Pemijahan induk
Perbanyakan botia dikerjakan melewati pemijahan buatan, yaitu lewat cara menyuntikkan hormon pada induk-induk terpilih. untuk induk betina kandungan dipakai 1,0 ml/kg berat badan induk dengan 2 x suntik. pertama 0,4 ml serta ke-2 0,6 ml dengan interval waktu 6 jam. untuk induk jantan 0,6 ml/kg cukup berbarengan dengan suntikan pertama induk betina. sesudah penyuntikan, dilanjutkan dengan pengeluaran sperma serta telur induk lewat cara stripping.
Stripping pada induk jantan dikerjakan apabila induk telah terlihat gelisah serta berenang ibas-ngibaskan ekor. bagian stripping pada induk jantan yaitu seperti berikut.
Sesudah induk jantan ditangkap, lap tubuhnya sampai kering supaya sper¬ma yang di ambil tidak tercampur air, lantas bias menggunakan phenoxy ethanol 0,3 ml.
Sedot sperma menggunakan spuit diisi garam lantas tampung ke dalam wadah berbentuk mangkok kecil. Encerkan sperma dengan menam¬bahkan larutan garam fisiologis ( per¬bandingan 1 : 3 sampai 1: 4 ). Simpan dalam suhu dingin layaknya kulkas atau ice box. sperma ini bisa tahan sampai 4 – 6 jam,
Sesaat stripping induk betina bisa dikerjakan lewat cara seperti berikut :
Layaknya halnya pada induk jantan, sebelum saat stripping clilakukan induk betina mesti dalam situasi kering untuk setelah itu dikerjakan pembiusan.
Sesudah dibius, kerjakan pengurutan sampai telur keluar. tampung telur pada wadah berbentuk mangkok atau piring yang permukaannya halus. Apabila saat diurut tetap merasa berat, tunggulah sesaat sampai merasa mudah kembali.Kerjakan pengurutan sedikit demi sedikit sampai telur habis.
Sesudah sistem stripping induk jantan serta betina dikerjakan, campur sperma serta telur sembari dialiri air bersih, lantas goyang-goyangkan sampai merata. sesudah sate menit, bersihkan dengan air bersih berapa kali.
Penetasan telur botia sangat bagus di tempat yang berupa corong dengan aran air yang halus. air untuk menetaskan telur baiknya air yang telah “tua” telur dapat menetas di tempat penetasan lebih kurang 19 jam apabila suhu maksimal yakni pada 26-27° c.
Pemeliharaan pascapemijahan
Larva yang menetas dapat tambah baik dipelihara dalam corong sampai 4 hari yakni sampai makan artemia. baru setelah itu larva bisa dipinclahkan ke area pemeliharaan larva layaknya akuarium atau bak.
Ikan botia daya tetasnya tetap ren¬dah baru lebih kurang 40%. perihal ini dikarenakan induk botia biasanya sulit beradaptasi. tetapi demikianlah, apabila dirawatdengan balk, peluang hidup larva dapat meraih 80-90%.
Sumber :
http://aquariumhias.blogspot.com/2013/05/budidaya-ikan-botia.html
Budidaya Cacing Sutra

Usaha budidaya cacing sutra ini sebenarnya dilakukan untuk menjawab permintaan pasar yang masih sangat kurang persedianya. Jika cacing sutra bisa dibudidayakan secara maksimal, maka usaha pembenihan ikan tidak perlu susah-susah mencari cacing sutra yang langka. Untuk pemasaran cacing sutra biasanya dijual dalam bentuk fresh dan bisa dijual dalam bentuk cacing beku. Penjualan cacing sutra dalam bentuk beku akan meminimalkan resiko tercampur mikroorganisme berbahaya bagi ikan dan bisa awet disimpan dalam jangka waktu lama.
Habitat Hidup Cacing Sutra
Hal penting yang perlu difahami dalam usaha budidaya cacing sutra adalah mengenali habitat hidup asli cacing sutra. Cacing sutra banyak ditemukan pada selokan, parit, saluran air dan tempat-tempat sejenis itu yang mengandung bahan-bahan organik. Bahan-bahan organik ini biasanya berasal dari limbah rumah tangga, limbah pasar yang mengalir ke saluran pembuangan.
Cacing sutra akan hidup dan berkembang dengan baik pada lokasi tersebut dalam kondisi air yang tergenang namun tidak mengalir dengan deras. Pada media yang memiliki kandungan oksigen terlarut 2-5 ppm, Cacing sutra akan berkembang dengan cepat. Selain itu kondisi yang diperlukan adalah kandungan amonia.
Langkah Usaha Budidaya Cacing Sutra
Usaha Budidaya cacing sutra bisa dilakukan dengan mengunakan bak semen, bak terpal atau media yang lain. Yang penting cacing sutra tidak bisa meninggalkan tempat untuk budidaya. Untuk ukuran bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Tempat untuk budidaya cacing sutra diberi air dan lumpur yang halus, diusahakan yang memiliki kandungan makanan bagi cacing sutra yang cukup. Media ini bisa diisi dengan limbah kolam lele atau kotoran ayam yang sudah difermentasi atau bahan lain yang sudah sarat dengan bahan-bahan organik yang diperlukan cacing sutra.
Setelah media budidaya dimasukkan lalu diaduk-aduk hingga semua bercampur.Langkah selanjutnya adalah pengendapan selama 3-5 hari. Pastikan setelah lumpur mengendap, permukaan lumpur rata, jika belum rata , diratakan dengan alat atau kayu. Setelah lumpur mengendap dan permukaan rata, upayakan ketinggian air dari permukaan lumpur sekitar 5-10 cm.
Setelah media untuk budidaya cacing sutra siap dan lumpur halus, langkah selanjutnya adalah penebaran benih cacing sutra. Yang penting diperhatikan dalam penebaran ini adalah kepadatan tebar indukan cacing sutra. Kepadatannya kira-kira 1 liter induk cacing sutra ditebarkan pada 30m2 kolam untuk budidaya.
Langkah selanjutnya dalah perawatan bibit cacing sutra. Selama masa perawatan cacing sutra, kolam dialiri air dengan debit yang kecil, namun ketinggian air harus dijaga pada 5-10 cm. Pada masa pemeliharaan ini perlu diulangi pemberian air buangan limbah lele atau kotoran ayam yang sudah difermentasi dengan EM4.
Pada usia penebaran 10 hari, bibit cacing sutra sudah mulai tumbuh halus dengan nampak seperti benang merah yang ada di permukaan lumpur. Cacing sutra bisa dipanen dalam waktu 2 sampai 3 bulan. Pemanenan cacing sutra juga bisa dilakukan bertahap sekaligus mengurangi kepadatan dan memberi kesempatan yang lain untuk tumbuh.
Ciri-ciri jika cacing sutra siap dipanen adalah apabila lumpur dipegang akan terasa kental. Cara memanennya adalah dengan menaikkan ketinggian air menjadi sekitar 50-60 cm. Pada kondisi ini cacing sutra akan cenderung naik sehingga mudah untuk dipanen. Waktu pemanenan adalah pagi dan sore hari saat cuaca tidak terlalu panas. Lumpur diaduk-aduk kemudian dimasukkan dalam baskom untuk selanjutnya dicuci dan dibersihkan dengan saringan.
Setelah cacing sutra dibersihkan langkah selanjutnya adalah pemberokan dengan waktu 10-12 jam. Langkah pemberokan cacing sutra ini dilakukan agar cacing sutra bebas dari mikroorganise berbahaya bagi ikan hias atau benih ikan. Setelah bersih cacing sutra siap untuk dijual.
Selamat Mencoba.
Sumber :
http://galeriukm.com/agrobisnis/budidaya-cacing-sutra
Petunjuk Praktis Budidaya Buah Pepaya

Tahukah anda bahwa pepaya ini memliki kandungan nutrisi yang kompleks yakni mengandung air, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, besi, kalium, dan vitamin A. Karena kandungan gizi tersebut, maka apa salahnya kita ketahui bagaimana cara membudidayakannya. Mana tahu, ke depannya Anda akan tertarik untuk membuka usaha budidaya pepaya.
Berikut adalah cara membudidayakan pepaya:
1. Pemilihan bibit
Memilah-milah bibit sangat perlu untuk memperoleh kualitas pepaya yang baik. Bibit pepaya bisa didapatkan di toko-toko penjualan bibit yang sudah dikemas dalam bungkusan tertentu.
Tapi bagi anda yang tidak menjangkau tempat penjualan bibit pepaya yang sudah dikemas karena lokasi yang terlalu jauh, bisa membuat bibit langsung dari pepaya.
Pilihlah jenis pepaya yang buahnya sudah sangat masak. Pisahkan biji pepaya dengan buahnya lalu kemudian dikeringkan.
Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah biji pepaya harus betul-betul kering. Jika biji pepaya tidak benar-benar kering maka pada saat tumbuh nanti pohon pepayanya akan menjadi pohon yang steril (mandul) atau tidak bisa berbuah.
2. Penyiapan tempat pembibitan
Untuk menanam biji pepaya yang sudah dikeringkan sebelumnya, sebaiknya jangan langsung ditanam pada lahan yang sangat luas. Dibibitkan terlebih dahulu untuk menghindari serangan serangga yang tidak diinginkan dan agar mudah mengontrolnya.
Siapkan tanah gembur yang merupakan campuran antara tanah, pupuk organik dan kotoran ternak pada wadah seperti baskom kecil. Setelah itu benamkan biji pada tanah gembur tersebut sekitar 1-2 cm.
Kontrol pembibitan selama kurang lebih 10 hari. Pada saat tanaman berumur 2 minggu dan kondisinya bagus, barulah dipindahkan ke lahan yang luas karena kondisi akarnya sudah sangat kuat dan tanaman pun tidak mudah layu.
3. Pemindahan lahan
Bibit yang sudah tumbuh di wadah pembibitan dibuatkan lubang sekitar 25 x 25 cm. Di dalam lubang tersebut diberikan pupuk organik yang dimaksudkan agar kondisi tanah menjadi gembur.
Selain itu, pada saat ditanam pepaya akan lebih leluasa menjalarkan akarnya karena memperoleh asupan nutrisi dari tanah yang gembur sehingga akarnya lebih mudah merambat mencari air.
Sebaiknya tanaman yang sudah dipindahkan diberikan sedikit pelindung berupa pagar yang melindungi tanaman dari jangkauan hewan-hewan seperti ayam atau hewan lainnya sehingga tanaman bisa terlindungi. Tapi jangan lupa jahwa tanaman itu butuh cahaya matahari untuk proses fotosintesisnya jadi pagarnya jangan sampai menutupi seluruh permukaan tanamannya.
4. Pemupukan
Pemupukan juga sangat perlu untuk menghindarkan tanaman dari hama. Hal itu bisa dilakukan pada saat tanaman mencapai tinggi sekitar ½ meter. Masa-masa pertumbuhan tanaman yang sangat produktif.
Pemupukan bisa dilakukan dengan cara menaburkan pupuk di sekeliling batangnya dan tidak perlu disentuhkan langsung ke bagian batang. Bila pupuk terkena air maka akan merembes ke semua bagian akar tanaman di dalam tanah.
5. Perawatan
Diperlukan perawatan tanaman pepaya hingga masa panen tiba, yaitu pada saat berumur minimal 7 bulan. Cara merawat tanaman pepaya tidaklah sulit. Anda hanya perlu menyiangi gulma, semak atau rumput liar yang tumbuh di sekitar batang pohon pepaya.
Jangan lupa untuk memberikan pupuk organik setiap dua bulan sekali agar tanaman pepaya tumbuh subur dan dapat menghasilkan buah yang lebat.
Selain itu, Anda juga harus mewaspadai hama penyakit seperti ulat dan jamur yang dapat menyerang batang, daun ataupun buah pepaya.
**
Itulah sekilas mengenai pembudidayaan pepaya yang cukup simpel dan tidak memerlukan biaya yang cukup mahal. Menanamlah sekarang agar bisa menuai buahnya di masa mendatang. Semoga artikel ini memberikan manfaat.
Sumber :
http://www.teruskan.com/17106/petunjuk-praktis-budidaya-buah-pepaya.html
Berkah dari Budidaya Ikan Sidat
Di Indonesia, paling sedikit ada enam jenis ikan sidat (Anguilla sp), yaitu Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pacifica.
Melihat peluang pasar yang besar, Syaiful Hanif (32) dan sepuluh rekannya yang tergabung dalam Paguyuban Patra Gesit di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mulai menjajaki usaha budidaya ikan sidat pada akhir tahun 2008.
Teknik pembesaran ikan sidat awalnya dipelajari Syaiful di Balai Layanan Umum Pandu Karawang, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Segmentasi ikan sidat bicolor dipilih dengan benih yang didapat dari hasil tangkapan alam.
Bermodal sedikit pengalaman, paguyuban yang dipimpin Syaiful itu lantas mengajukan kredit lunak pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pertamina Tbk Rp 1,2 miliar untuk jangka waktu 3 tahun.
Kemudian, dana sebesar itu digunakan untuk membeli lahan seluas 2 hektar di Desa Lamaran Tarum, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.
Selain itu, dana itu untuk membangun 10 petak kolam ikan berukuran masing-masing 20 x 30 meter persegi, pembelian benih ikan sidat, serta persiapan sarana dan prasarana produksi. Di antaranya peralatan diesel mengingat di wilayah itu belum ada jaringan listrik yang memadai.
Setelah lahan disiapkan, Syaiful dan rekan-rekannya mencoba mempraktikkan pembesaran ikan sidat bicolor di lahan mereka. Namun, usaha pembesaran ikan sidat bicolor ternyata tidak mudah. Bicolor yang biasa hidup di arus pertemuan air sungai dan air laut sulit beradaptasi di kolam air tawar.
Negara tujuan ekspor
Ikan sidat adalah jenis karnivora (pemakan ikan) yang memiliki sifat katadromos, yaitu awalnya berkembang biak di laut dan selanjutnya mencari perairan umum (air tawar) untuk membesarkan diri.
Sifat itu membuat ikan sidat sulit beradaptasi dan mengubah pola makan di habitat baru kolam air tawar. Tingkat pertumbuhan ikan bicolor juga tidak merata karena ukuran benih yang ditebar tidak seragam. Usaha mereka pun berada di ambang kehancuran.
Namun, Syaiful tidak menyerah. Ia lantas menekuni riset pembesaran ikan sidat selama hampir setahun. Proses aklimatisasi diterapkan berupa penyesuaian lingkungan, temperatur, serta sortir benih ikan sebelum disimpan di kolam.
Dengan perlakuan khusus, ikan sidat bicolor yang biasanya makan ikan lain itu berubah kebiasaan menjadi rakus makan pelet. Berpijak dari hasil riset tersebut, Syaiful dan teman-temannya melanjutkan usaha. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung beralih dengan membidik segmentasi ikan sidat marmorata yang permintaan dan harganya di pasar internasional jauh lebih tinggi.
Ikan sidat marmorata terbukti tumbuh subur dengan tingkat hidup (SR) 80 persen. Jika dalam kurun 6 bulan pertumbuhan benih sidat hanya dari ukuran 0,2 gram menjadi 40 gram per ekor, dalam bulan ke-7 sampai ke-10 benih tumbuh pesat dari ukuran 40 gram ke 1 kilogram (kg) per ekor.
Pada panen perdana bulan Januari 2010, paguyuban itu menghasilkan panen sidat sebanyak 500 kg dan seluruhnya diekspor. Ekspor ikan hidup dengan bobot lebih dari 500 gram per ekor, harga jualnya berkisar Rp 120.000-Rp 160.000 per kg. Harganya akan semakin mahal jika bobot ikan lebih dari 1 kg per ekor, yakni Rp 120.000-Rp 180.000 per kg.
Pasar utama ekspor ikan sidat adalah Hongkong, China, dan Taiwan. ”Minat pasar ekspor yang tinggi terhadap ikan sidat membuat hasil produksi selalu terserap pasar, berapa pun jumlahnya,” ungkap Syaiful.
Ia mengakui tidak sulit mencari benih ikan. Beberapa kawasan perairan yang banyak terdapat benih ikan sidat di antaranya di pesisir Sumatera bagian barat, Sulawesi, dan pantai selatan Jawa yang berbatasan dengan laut dalam. Harga benih sidat marmorata Rp 120.000 per kg dengan ukuran benih 25 gram per ekor.
Sayangnya, seiring maraknya permintaan di pasar internasional, penyelundupan benih ikan sidat ke negara lain terus terjadi, di antaranya ke Jepang.
Penyelundupan di beberapa tempat itu mendongkrak harga benih marmorata hingga mencapai Rp 2,5 juta per kg.
Syaiful mengaku khawatir, dengan teknologi budidaya sidat di Tanah Air yang belum berkembang luas, bukan tidak mungkin masyarakat Jepang kelak akan mencuri start dalam pembudidayaan ikan sidat secara luas.
”Indonesia adalah negeri produsen benih ikan yang besar dan kaya. Tetapi, jika potensi itu tidak dimanfaatkan optimal, bisa dipastikan rakyat Indonesia sulit memperoleh nilai tambah dari perikanan,” ujar pria yang sebelumnya menekuni bisnis penjualan pulsa itu.
Salah satu ambisinya dalam waktu dekat adalah memperluas pemasaran ikan sidat ke pasar-pasar dalam negeri. ”Kalau pasar ekspor dengan mudah bisa ditembus, kenapa pasar dalam negeri justru tidak melihat potensi ini,” papar Syaiful.
Ia menargetkan produksi ikan sidat pada panen kedua bulan Juli 2010 bisa mencapai 1 ton. Ia pun berencana memberdayakan masyarakat sekitar dengan menularkan teknik pembesaran ikan sidat ke warga Indramayu.
Caranya, melepas benih ikan sidat berukuran 100 gram kepada warga untuk dibesarkan sampai ukuran 500 gram, kemudian ditampung kembali untuk dipasarkan.
Pria lulusan politeknik Jurusan Mesin ITB angkatan 1996 ini berharap pemerintah memiliki regulasi yang tegas untuk mengembangkan benih ikan sidat, memperluas teknologi budidaya lewat pemberdayaan masyarakat, serta menekan penyelundupan benih yang merugikan perikanan budidaya. (Kompas)
Sumber : http://agrobost.co.id/
Langganan:
Postingan (Atom)