Tampilkan postingan dengan label ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Januari 2014

Proses Pembenihan Ikan Arwana

Berbicara lebih detail seputar budidaya ikan arwana, pastinya berkaitan erat dengan step atau tata urutan budidaya ikan arrwana yahg harus dikerjakan satu per satu. Salah satu step yang sangat penting ketika kita akan melah mulai usaha budidaya ikan arwana adalah proses pembenihan ikan arwana. Proses ini harus dilakukan secara benar karena step yang satu ini akan menentukan kualitas benih atau cikal bakal ikan arwana yang akan dibudidayakan kelak. Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan pada tahap proses pembenihan ikan arwana? Mari kita simak informasinya berikut ini.

Benih-benih ikan arwana yang berkualitas unggul pada dasarnya ditentukan dari indukan yang berkualitas unggul juga. Maka dari itu jika kita menginginkan benih-benih ikan arwana yang berkualitas tinggi, kita harus pandai dan selektif dalam memilih indukan yang berkualitas. Kemudian indukan-indukan ikan arwana yang berkualitas tinggi tersebut kemudian dipijah dengan baik dan benar. Selama proses pemijahan, kita harus mengamati perilaku dua indukan ikan arwana yaitu ikan arwana jantan dan betina di media pemijahan. Hal ini diperlukan agar kedua indukan tersebut dapat menyesuaikan diri. Para ahli budidaya ikan menyebut proses ini sebagai masa pengenalan.

Masa Pemijahan Induk

Masa pengenalan ini tergolong cukup lama, yaitu sekitar satu minggu atau bisa sampai bulan. Kita sudah bisa menyebutnya kedua ikan arwana ini sebagai pasangan jika di malam hari tiba, ikan jantan akan berenang mengejar ikan betina yang berenang mendekati permukaan air kolam/ akuarium. Terkadang kedua ikan berenang dengan rute yang berbentuk lingkaran di permukaan air. Sekitar 1-2 minggu, ikan akan terlihat berenang dengan posisi tubuh keduanya saling melekat. Kemudian ikan betina seketika akan mengeluarkan telur dalam jumlah banyak. Telur-telur yang dikeluarkan berwarna jingga kemerahan. Tak lama setelah proses pelepasan telur, ikan jantan akan memasukan telur-telur tersebut ke mulutnya untuk diinkubasi.

Masa Inkubasi Larva Ikan Arwana

Masa inkubasi bisa dikatakan selesai jika larva-larva yang berasal dari telur yang menetas bisa berenang dan bertahan hidup sendiri. Butuh sekitar 1 minggu bagi telur untuk menetas di mulut ikan jantan. Larva-larva ini kemudian akan tetap hidup di mulut ikan jantan sampai sekitar 7-8 minggu dan kemudian larva akan dikeluarkan dari mulut ikan jantan jika larva sudah berukuran 45-50 mm. Umumnya jumlah rata-rata larva yang berhasil ditetaskan oleh ijan jantan sekitar 25-30 ekor. Pada saat akan memasuki masa pembenihan, larva-larva ikan arwana ini kemudian dipindahkan ke akuarium khusus dengan air yang bersuhu 27-29 derajat Celsius. Akuarium/ kolam khusus tersebut sebaiknya dilengkapi dengan pemanas thermostat dan oksigen terlarut sebanyak 5 ppm.

Perawatan Larva Ikan Arwana

Agar terhindar dari berbagai jenis penyakit, air akuarium sebaiknya dilarutkan dengan acriflavine 2 ppm. Dengan adanya usaha preventif ini, survival rate larva bisa mencapai 90-100 persen hingga larva menjadi ikan kecil yang sudah mampu berenang lincah. Selama menjalani masa inkubasi buatan, larva-larva ini tidak memerlukan pakan. Kita hanya perlu memperhatikan kualitas air, suhu, kadar oksigen, dan kesehatan larva saja. Larva mulai membutuhkan pakan jika larva sudah berukuran 8,5 cm atau larva yang sudah berumur 7 minggu. Pakan wajib diberikan pada larva agar larva tidak saling memakan. Pakan larva bisa berupa cacing darah atau ikan kecil yang sesuai dengan ukuran mulut larva. Kemudian jika larva sudah berukuran 10-12 cm, kita bisa memberinya pakan berupa udang air tawar atau juga bisa runcah agar cepat tumbuh besar.

Sumber :
http://agraris.adakata.com/pembenihan-ikan-arwana/
Selengkapnya

Minggu, 08 Desember 2013

Penjelasan Mengenai Ikan Terbang

Kemarin saya sempat mengupload video ikan terbang dari Youtube. Bagi yang belum sempat melihat Videonya silahkan dalam video Ikan Terbang. Tentunya banyak yang penasaran bagaimana cara ikan ini bisa terbang melayang di udara seperti burung? Karena itu kali ini saya akan memberikan penjelasan secara singkat bagaimana ikan tersebut bisa terbang.

Setelah gugling ke sana ke mari ( baik di situs lokal maupun luar) mencari artikel mengenai ikan terbang ini, akhirnya saya menemukan beberapa artikel yang bisa dijadikan rujukan. Semoga penjelasan singkat berikut ini bisa menghapus rasa kepenasaran (atau mungkin malah menambah?) sobat-sobat semua mengenai fenomena ikan terbang ini.

Berikut ini penjelasan singkat menurut Wikipedia mengenai ikan terbang:
Exocoetidae atau ikan terbang adalah familia ikan laut yang terdiri atas sekitar 50 spesies yang dikelompokkan dalam 7 hingga 9 genera. Ikan terbang ditemukan di semua samudra utama, terutama di perairan tropis dan subtropis di samudera Atlantik, Pasifik dan Hindia. Ciri utamanya yng paling menonjol adalah sirip dadanya yang besar, memungkinkan ikan ini meluncur terbang secara singkat di udara, di atas permukaan air, untuk lari dari pemangsa. Peluncuran mereka biasanya sejauh sekitar 50 meter, namun mereka dapat menggunakan dorongan pada tepi gelombang hingga dapat mencapai jarak setidaknya 400m

Bagian Tubuh yang Mendukung untuk terbang
Sirip pectoral (pada bagian dada) - Sirip dada panjang dan dapat diadaptasikan untuk melayang dan mengandung banyak duri lemah dengan duri pertama tidak bercabang dan sisanya bercabang. Duri-duri lemah pada sirip dorsal berjumlah 10-12, pada sirip anal 1-12, pada sirip pectoral 14-15 dengan sirip pertama tidak bercabang.
Sirip ekor cagak (deeply emarginated) dengan sirip bagian bawah lebih panjang. Garis lateral terletak pada bagian bawah tubuh.

Mekanisme dan Cara ikan terbang
Ikan terbang dapat dibagi menjadi dua kelompok: ”bersayap dua” dan ”bersayap empat” yang masing-masing memiliki mekanisme terbang yang berbeda. Mekanisme bagaimana ikan ini bisa terbang juga cukup sederhana. Awalnya mereka akan berakselerasi di dalam air hingga mencapai kecepatan 70 km/jam dibantu oleh kepakan ekor mereka. Sekali mereka melompat di atas air, sirip-siripnya akan mengembang dan memanfaatkan angin untuk meraih ketinggian. Adakalanya mereka memukulkan ekornya di permukaan air untuk tetap melompat tinggi dan mengubah arah.

* Populasi ikan terbang ternyata juga terdapat di perairan Laut Indonesia. Tepatnya di perairan wilayah Sulawesi Selatan. Hanya saja spesies ikan terbang ini terancam punah karena banyak diburu oleh masyarakat sekitar. Yang membuatnya diburu adalah karena telur ikan ini (berwarna kuning keemasan) memiliki nilai jual yang tinggi untuk dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Lha, kalau telurnya diambil ga bisa beranak dong..??? Mungkin sudah harus dimasukkkan dalam daftar Hewan Langka yang Terancam Punah. Masa anak cucu kita cuma bisa lihat ikan terbang di INDOSIAR doang!
---------------------------

Ikan Terbang
Ikan terbang sirip layarParexocoetus brachypterus
Ikan terbang sirip layar
Parexocoetus brachypterus
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Beloniformes
Famili: Exocoetidae
Genera
Cheilopogon
Cypselurus
Danichthys
Exocoetus
Fodiator
Hirundichthys
Oxyporhamphus
Parexocoetus
Prognichthys

Sumber rujukan:
http://science.jrank.org/pages/2789/Flying-Fish.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_terbang
http://www.koleksiweb.com/alam/ikan-terbang-ikan-yang-sangat-menakjubkan.html
http://www.faktailmiah.com/2010/09/13/ikan-terbang-melayang-seperti-burung.html
http://www.iftfishing.com/iftfish/?p=3927
Selengkapnya

Selasa, 22 Oktober 2013

Budidaya Ikan Botia

Ikan botia ( chromobotia macracanthus ) yang berparas sangat cantik ini tempat penyebarannya di sungai-sungai sumatera serta kalimantan. kecantikannya bikin ikan hias ini cukup laku, balk di pasar lokal ataupun ekspor.

Budidaya ikan botia pada umumnya, ikan botia diperjualbelikan dalam ukuran pada 1-3 inchi atau 2, 5 —7, 5 cm. botia berukuran besar, yaitu diatas 5 inchi dilarang untuk diperjualbelikan. tujuannya membuat perlindungan botia dari kepunahan dikarenakan penangkapan ikan dengan besar-besaran.

Penentuan induk
Sampai sekarang ini, induk botia tetap didatangkan dari alam atau mesti dibeli di area penangkapan. induk lantas dipelihara dalam area pemeliharaan yang tertutup atau wadah pemeliharaan¬nya dilengkapi tutup supaya cahaya sedikit masuk. adaptasi untuk masak gonad ikan ini agak lama lebih kurang 8-10 bln.. induk yang masak gonad ditan¬dai dengan gendutnya induk betina. cara kanulasi atau kateterisasi merupakan cara yang sangat efisien untuk memastikan kematangan gonad. Jika ukuran telur telah meraih panjang 1,1 - 1,2 mm maka ikan bisa dipijahkan. untuk induk jantan bisa dilihat dengan pengurutan serta apabila telah dapatkeluar sperma yakni cairan putih susu bermakna dia masak.


Pemijahan induk
Perbanyakan botia dikerjakan melewati pemijahan buatan, yaitu lewat cara menyuntikkan hormon pada induk-induk terpilih. untuk induk betina kandungan dipakai 1,0 ml/kg berat badan induk dengan 2 x suntik. pertama 0,4 ml serta ke-2 0,6 ml dengan interval waktu 6 jam. untuk induk jantan 0,6 ml/kg cukup berbarengan dengan suntikan pertama induk betina. sesudah penyuntikan, dilanjutkan dengan pengeluaran sperma serta telur induk lewat cara stripping.

Stripping pada induk jantan dikerjakan apabila induk telah terlihat gelisah serta berenang ibas-ngibaskan ekor. bagian stripping pada induk jantan yaitu seperti berikut.

Sesudah induk jantan ditangkap, lap tubuhnya sampai kering supaya sper¬ma yang di ambil tidak tercampur air, lantas bias menggunakan phenoxy ethanol 0,3 ml.

Sedot sperma menggunakan spuit diisi garam lantas tampung ke dalam wadah berbentuk mangkok kecil. Encerkan sperma dengan menam¬bahkan larutan garam fisiologis ( per¬bandingan 1 : 3 sampai 1: 4 ). Simpan dalam suhu dingin layaknya kulkas atau ice box. sperma ini bisa tahan sampai 4 – 6 jam,

Sesaat stripping induk betina bisa dikerjakan lewat cara seperti berikut :
Layaknya halnya pada induk jantan, sebelum saat stripping clilakukan induk betina mesti dalam situasi kering untuk setelah itu dikerjakan pembiusan.

Sesudah dibius, kerjakan pengurutan sampai telur keluar. tampung telur pada wadah berbentuk mangkok atau piring yang permukaannya halus. Apabila saat diurut tetap merasa berat, tunggulah sesaat sampai merasa mudah kembali.Kerjakan pengurutan sedikit demi sedikit sampai telur habis.

Sesudah sistem stripping induk jantan serta betina dikerjakan, campur sperma serta telur sembari dialiri air bersih, lantas goyang-goyangkan sampai merata. sesudah sate menit, bersihkan dengan air bersih berapa kali.

Penetasan telur botia sangat bagus di tempat yang berupa corong dengan aran air yang halus. air untuk menetaskan telur baiknya air yang telah “tua” telur dapat menetas di tempat penetasan lebih kurang 19 jam apabila suhu maksimal yakni pada 26-27° c.

Pemeliharaan pascapemijahan
Larva yang menetas dapat tambah baik dipelihara dalam corong sampai 4 hari yakni sampai makan artemia. baru setelah itu larva bisa dipinclahkan ke area pemeliharaan larva layaknya akuarium atau bak.

Ikan botia daya tetasnya tetap ren¬dah baru lebih kurang 40%. perihal ini dikarenakan induk botia biasanya sulit beradaptasi. tetapi demikianlah, apabila dirawatdengan balk, peluang hidup larva dapat meraih 80-90%.

Sumber :
http://aquariumhias.blogspot.com/2013/05/budidaya-ikan-botia.html
Selengkapnya

Berkah dari Budidaya Ikan Sidat

Ikan sidat atau unagi banyak dikonsumsi sebagai makanan mewah di Jepang, Hongkong, dan Korea karena kandungan tinggi protein dan omega-3 yang berkhasiat untuk kesehatan tubuh. Namun, benih ikan sidat yang banyak di perairan Indonesia belum banyak dimanfaatkan di negeri sendiri.

Di Indonesia, paling sedikit ada enam jenis ikan sidat (Anguilla sp), yaitu Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pacifica.

Melihat peluang pasar yang besar, Syaiful Hanif (32) dan sepuluh rekannya yang tergabung dalam Paguyuban Patra Gesit di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mulai menjajaki usaha budidaya ikan sidat pada akhir tahun 2008.

Teknik pembesaran ikan sidat awalnya dipelajari Syaiful di Balai Layanan Umum Pandu Karawang, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Segmentasi ikan sidat bicolor dipilih dengan benih yang didapat dari hasil tangkapan alam.

Bermodal sedikit pengalaman, paguyuban yang dipimpin Syaiful itu lantas mengajukan kredit lunak pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pertamina Tbk Rp 1,2 miliar untuk jangka waktu 3 tahun.

Kemudian, dana sebesar itu digunakan untuk membeli lahan seluas 2 hektar di Desa Lamaran Tarum, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.

Selain itu, dana itu untuk membangun 10 petak kolam ikan berukuran masing-masing 20 x 30 meter persegi, pembelian benih ikan sidat, serta persiapan sarana dan prasarana produksi. Di antaranya peralatan diesel mengingat di wilayah itu belum ada jaringan listrik yang memadai.

Setelah lahan disiapkan, Syaiful dan rekan-rekannya mencoba mempraktikkan pembesaran ikan sidat bicolor di lahan mereka. Namun, usaha pembesaran ikan sidat bicolor ternyata tidak mudah. Bicolor yang biasa hidup di arus pertemuan air sungai dan air laut sulit beradaptasi di kolam air tawar.

Negara tujuan ekspor

Ikan sidat adalah jenis karnivora (pemakan ikan) yang memiliki sifat katadromos, yaitu awalnya berkembang biak di laut dan selanjutnya mencari perairan umum (air tawar) untuk membesarkan diri.

Sifat itu membuat ikan sidat sulit beradaptasi dan mengubah pola makan di habitat baru kolam air tawar. Tingkat pertumbuhan ikan bicolor juga tidak merata karena ukuran benih yang ditebar tidak seragam. Usaha mereka pun berada di ambang kehancuran.

Namun, Syaiful tidak menyerah. Ia lantas menekuni riset pembesaran ikan sidat selama hampir setahun. Proses aklimatisasi diterapkan berupa penyesuaian lingkungan, temperatur, serta sortir benih ikan sebelum disimpan di kolam.

Dengan perlakuan khusus, ikan sidat bicolor yang biasanya makan ikan lain itu berubah kebiasaan menjadi rakus makan pelet. Berpijak dari hasil riset tersebut, Syaiful dan teman-temannya melanjutkan usaha. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung beralih dengan membidik segmentasi ikan sidat marmorata yang permintaan dan harganya di pasar internasional jauh lebih tinggi.

Ikan sidat marmorata terbukti tumbuh subur dengan tingkat hidup (SR) 80 persen. Jika dalam kurun 6 bulan pertumbuhan benih sidat hanya dari ukuran 0,2 gram menjadi 40 gram per ekor, dalam bulan ke-7 sampai ke-10 benih tumbuh pesat dari ukuran 40 gram ke 1 kilogram (kg) per ekor.

Pada panen perdana bulan Januari 2010, paguyuban itu menghasilkan panen sidat sebanyak 500 kg dan seluruhnya diekspor. Ekspor ikan hidup dengan bobot lebih dari 500 gram per ekor, harga jualnya berkisar Rp 120.000-Rp 160.000 per kg. Harganya akan semakin mahal jika bobot ikan lebih dari 1 kg per ekor, yakni Rp 120.000-Rp 180.000 per kg.

Pasar utama ekspor ikan sidat adalah Hongkong, China, dan Taiwan. ”Minat pasar ekspor yang tinggi terhadap ikan sidat membuat hasil produksi selalu terserap pasar, berapa pun jumlahnya,” ungkap Syaiful.

Ia mengakui tidak sulit mencari benih ikan. Beberapa kawasan perairan yang banyak terdapat benih ikan sidat di antaranya di pesisir Sumatera bagian barat, Sulawesi, dan pantai selatan Jawa yang berbatasan dengan laut dalam. Harga benih sidat marmorata Rp 120.000 per kg dengan ukuran benih 25 gram per ekor.

Sayangnya, seiring maraknya permintaan di pasar internasional, penyelundupan benih ikan sidat ke negara lain terus terjadi, di antaranya ke Jepang.

Penyelundupan di beberapa tempat itu mendongkrak harga benih marmorata hingga mencapai Rp 2,5 juta per kg.

Syaiful mengaku khawatir, dengan teknologi budidaya sidat di Tanah Air yang belum berkembang luas, bukan tidak mungkin masyarakat Jepang kelak akan mencuri start dalam pembudidayaan ikan sidat secara luas.

”Indonesia adalah negeri produsen benih ikan yang besar dan kaya. Tetapi, jika potensi itu tidak dimanfaatkan optimal, bisa dipastikan rakyat Indonesia sulit memperoleh nilai tambah dari perikanan,” ujar pria yang sebelumnya menekuni bisnis penjualan pulsa itu.

Salah satu ambisinya dalam waktu dekat adalah memperluas pemasaran ikan sidat ke pasar-pasar dalam negeri. ”Kalau pasar ekspor dengan mudah bisa ditembus, kenapa pasar dalam negeri justru tidak melihat potensi ini,” papar Syaiful.

Ia menargetkan produksi ikan sidat pada panen kedua bulan Juli 2010 bisa mencapai 1 ton. Ia pun berencana memberdayakan masyarakat sekitar dengan menularkan teknik pembesaran ikan sidat ke warga Indramayu.

Caranya, melepas benih ikan sidat berukuran 100 gram kepada warga untuk dibesarkan sampai ukuran 500 gram, kemudian ditampung kembali untuk dipasarkan.

Pria lulusan politeknik Jurusan Mesin ITB angkatan 1996 ini berharap pemerintah memiliki regulasi yang tegas untuk mengembangkan benih ikan sidat, memperluas teknologi budidaya lewat pemberdayaan masyarakat, serta menekan penyelundupan benih yang merugikan perikanan budidaya. (Kompas)

Sumber : http://agrobost.co.id/
Selengkapnya